Sunday, July 31, 2011

PA PENDAMPING REMAJA

Jumat, tanggal 29 Juli 2011, pukul 19.30, saya mendapat jadual memimpin PA pada Pendamping Remaja HKBP Serpong. Bahan renungan diambil dari Kolose 3 : 23 ~ 23 yang intinya Tuhan Berfirman : "Kalau engkau berbuat, berbuatlah kepada Tuhan, tidak untuk manusia." Dan diteruskan, engkau akan mendapat upah yang dikombinasikan dengan bahwa Tuhan itu adalah Tuan, dan engkau adalah hamba.

Bahan renungan ini seperti biasa, saya persiapkan dengan terlebih dahulu bertanya dalam hati : "kira-kira apa yang menjadi pesan bagi para pendamping remaja yang harus saya sampaikan sehingga ada kontribusi bagi mereka untuk suksesnya pendampingan bagi remaja itu sendiri.

Saya berketetapan memberikan sesuatu dengan harapan membantu mereka menemukan suatu metode bagaimana seharusnya pendampingan itu dilaksanakan sehingga ibarat remaja ini sesuatu bahan material yang menjadi imput yang akan diproses dan mengahasilkan output yang notabene remaja itu adalah sokoguru gereja di suatu hari kelak.

Saya mulai dengan kalau berbuat kepada manusia (dalam hal ini remaja), anggaplah itu berbuat kepada Tuhan. Karena kita tidak mungkin berbuat kepada Tuhan yang tidak kelihatan, oleh sebab itu Tuhan perintahkan perbuatlah kepada manusia dan anggaplah itu berbuat kepada Tuhan.

Allah adalah kasih (1 Yoh. 4 : 8) oleh sebab itu setiap perbuatanNya tentulah kasih adanya. Apabila pembina remaja diperintahkan oleh Tuhan berbuat kepada Allah yang adalah kasih itu, berbuatlah kepada remaja dalam rangka pendampingan itu dengan kasih (bukan asal).

Pepatah mengatakan tidak kenal, maka tidak sayang (kasih). Jadi langkah awal untuk mendampingi remaja dalam rangka berbuat itu tadi, mau tidak mau harus terlebih dahulu mengenal siapa remaja yang didampingi itu.

Kita melayani (berbuat kepada) Tuhan di dalam HKBP yang secara teori mendefinisikan siapa remaja HKBP dalam Aturan dan Peraturan HKBP Tahun 2002, antara lain mengatakan remaja adalah persekutuan putra putri yang karena sifat yang berkaitan dengan usianya tidak sesuai dimasukkan ke sekolah minggu maupun naposo hkbp. Dan selanjutnya disebutkan keanggotaannya semua putra putri warga jemaat yang berusia 12 hingga 18 tahun.

Itulah Remaja HKBP, kenalilah mereka melalui pendampingan, maka kalian akan menyayangi (mengasihi) mereka. Sesungguhnya pendampingan itu seperti apa? Pendamping berasal dari kata damping yang menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia artinya dekat, karib, rapat. Itu berarti dapat juga disebut menyatu, melebur, tidak ada jarak, dan pada saat itulah pendamping remaja tersebut mengenal yang dengan sendirinya mengasihi remaja itu sendiri yang menjadi perintah Tuhan sesuai dengan renungan kita malam ini.

Sampai di situ kita bisa diskusi, atau ada yang akan ditanyakan?

Peserta yang hadir hanya 4 orang, 3 orang ibu-ibu (kalau tidak salah karena yang satu belum saya sempat tanya) dan 1 orang masih naposo juga perempuan.

Ny. Siagian Br. Sitorus bertanya : "Ada tidak pengalaman amang yang bisa dibagikan dalam hal pembinaan remaja?"

Sesuai dengan tema kita malam ini berbuatlah kepada manusia itu perbuatan kepada Allah. Jadi saya mulai dari dasarnya dan tidak yang bersifat instan. Dengan menceritrakan pengalaman pembinaan remaja pada malam ini bukankah itu melangkah ke urutan selanjutnya tanpa memperhatikan dasar yang justru dimulai dari sana? Apakah pendamping remaja sudah mengenal siapa remaja?

Ya, sesuai teori tadi bahwa remaja seperti dalam Aturan dan Peraturan HKBP Tahun 2002, tapi saran amang tentang pembinaan remaja ini seperti apa? Inang Ny. Siagian Br. Sitorus melanjutkan pertanyaannya!

Baik, kira-kira berapa jumlah remaja HKBP Serpong? Dijawab : "Kurang lebih 60 orang." Dan berapa jumlah pendamping remaja? Kami ada 7 orang, tapi sekarang tinggal 5 orang karena yang 2 orang lagi, Cal.St. Endang Holan Sitohang dan Cal.St. Sudiarto Simanjuntak, tidak aktif karena kesibukan masing-masing. Dan yang terakhir disebut meneruskan kuliah.

Saya ingin meyakinkan hati saya, apakah pendampingan remaja ini karena panggilan atau hanya karena rutinitas formalitas belaka dan bertanya lebih lanjut. Apakah mereka yang tidak aktif itu oleh karena kesibukan pamitan atau tidak aktif begitu saya? Saya contohkan amang St. Partogian Sormin, yang mohon cuti secara resmi di sermon, dengan alasan sedang menyelesaikan studi S3. Jawaban mereka tidak ada permohonan seperti itu untuk tidak aktif sementara. Jawaban ini kurang lebih menggeser keyakinan saya ke arah keraguan tentang komitmen pendampingan remaja yang sesungguhnya.

Pendampingan sebagaimana diartikan dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia yang mau tidak mau harus selalu dekat dengan remaja tersebut, dengan 5 orang pendamping dan 60 orang remaja, coba dibuat sistem sel, itu berarti setiap pendamping mempunyai 12 orang yang didampingi, dan mulailah mendampingi mereka secara efektif dengan metode yang pas serta disenangi oleh mereka.

Ny. Hutahaean Br. Tambunan, menanggapi : "Saya setuju saran amang, dengan membagi 1 orang pendamping mempunyai anggota 12 orang lebih efektif berkomunikasi sama mereka. Tidak seperti, kalau secara rutin sesuai dengan program pada saat tertentu sesuai jadual ada pembinaan yang dilakukan, kita menyampaikan pesan dari depan tidak ada yang mendengar bahkan mereka asyik dengan obrolan mereka sendiri."

Hal ini juga saya iyakan, dengan menyampaikan hal yang sama pada saat saya dapat jadual khotbah di remaja. Khotbah disampaikan dari mimbar di satu sisi, para remaja banyak juga yang ngobrol dengan temannya di sisi lain. Peristiwa tersebut, menurut saya akan selalu berulang, oleh sebab itu hal itu bukan cara tepat metode pendampingan.

Ny. Hutahaean Br. Tambunan, melanjutkan pertanyaannya : "Jadi bagaimana dong amang?"

Dengan tetap menyarankan, kenalilah dahulu remaja itu sendiri dengan pendampingan yang benar (dekat, akrab, karib, rapat) maka kalian akan mengasihi mereka dan perbuatan itu adalah perbuatan kepada Tuhan, bukan kepada manusia. Dan yang paling spektakuler, apabila kalian suatu saat hadir di sekolah di mana mereka bersekolah.

Ny. Siagian Br. Sitorus, menimpali dan berkata : "Pekerjaan itu tidak mudah dan berbahaya bagai anak sekarang." Anak kita saja tidak senang apabila kita hadir di sekolah mereka dan protes, ngapain mama datang ke sekolah ini?

Inang jangan terlalu depensif, saya juga mengatakan bahwa metode yang saya tawarkan bukan satu-satunya dan belum tentu benar, namun boleh dipadukan dengan metode sintua lainnya pun pendeta yang telah melayani di pendamping remaja ini. Dan yang paling penting metode itu harus yang pas dan digemari oleh remaja, kalau tidak jangan dipaksakan karena tidak ada gunanya bahkan menjadi kontra produktif.

Saya lanjutkan, kemudian dikatakan oleh Firman Tuhan, ada upah yang akan diberikan Tuhan bagi pendamping remaja, namun ingat Kristus adalah Tuan dan kita adalah hamba-Nya.

Soal upah dalam urutan ayat ini adalah urutan pada umumnya setelah berbuat yang baik meluncurlah upah (tentu yang baik pula). Tetapi dalam beriman kepada Tuhan pada dasarnya upah itu sudah dijanjikan dan diberikan kepada setiap orang percaya (yaitu sorga) terlebih dahulu, dan oleh karena itulah kita harus berbuat semua yang baik termasuk berbeban bagi pendampingan remaja yang pas, penuh dengan kasih yang dinamis, bukan sekedar rutinitas formalitas bahkan apatis.

Sampai acara PA ditutup, tidak ada komentar dari peserta naposo dan yang satu lagi yang relatif masih muda (tapi belum tahu apakah sudah berstatus ibu/inang), yang saya harapkan lebih tepat ditempa menjadi pendamping remaja yang handal daripada yang sudah berkeluarga yang banyak dibebani tanggung jawab mengurus keluarga dan pekerjaan sesuai profesinya.

Penutupan dibarengi dengan pesan : "Alangkah indahnya hidup pendampingan itu di antaranya apabila remaja yang didampingi saat ini, mengambil keputusan menjadi sintua di HKBP Serpong suatu saat kelak."

Input (remaja yang secara pas didampingi), proses, Output (sintua HKBP Serpong). Semoga!

0 comments:

Post a Comment